Tiara Aliya Azzahra - detikNews Jakarta - Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahmad Riza Patria mengatakan tingkat keterisian tempat tidur atau bed occupancy rate (BOR) isolasi di rumah sakit rujukan COVID-19 kembali menurun. Saat ini, keterisian tempat tidur isolasi sebesar 33 persen dan keterisian ruang ICU 59 persen.

Riza merinci dari total 10.028 tempat tempat tidur isolasi yang disediakan, sekitar 3 ribu sudah terisi. Sedangkan untuk tempat tidur ICU telah terpakai 917 dari total 1.562.

"Tempat tidur BOR turun menjadi 33 persen atau 3.303. ICU turun menjad 917 atau 59 persen," kata Riza kepada wartawan, Jumat (13/8/2021).

Di sisi lain, Riza juga melaporkan saat ini dosis pertama vaksinasi COVID-19 mencapai 8,7 juta. Sedangkan untuk dosis kedua masih berkisar di angka 3,8 juta.

"Total dosis satu dan dua sebanyak 12.592.336," ujarnya.

Sejauh ini, pihaknya berupaya menambah sentra vaksinasi COVID-19 hingga tingkat kecamatan. Tujuannya agar target 11 juta warga divaksinasi COVID-19 bisa segera tercapai. 

"Kami minta seluruh warga Jakarta yang belum melaksanakan vaksin segera datangi sentra-sentra vaksin di tempat-tempat penyelenggara vaksin," ucapnya.

Sebelumnya, pada Selasa (10/8) lalu, keterisian tempat tidur isolasi sebesar 37 persen dan keterisian ruang ICU 64 persen.

"BOR turun lagi menjadi 37 persen, dan ICU turun lagi menjadi 64 persen. Kami terus meningkatkan pelayanan fasilitas RS, laboratorium, oksigen, TPU, peti mati semuanya, obat-obatan bahkan nakes terus kita tambah," kata Riza di Mal Kota Kasablanka, Jakarta Selatan, Selasa (10/8/2021).

Politikus Gerindra itu juga menyampaikan saat ini Pemprov DKI Jakarta tengah melakukan uji coba pembukaan mal di masa perpanjangan PPKM Level 4. Kendati demikian, dia tetap meminta warga meminimalkan bepergian ke luar rumah agar tidak terpapar virus Corona.

(idn/idn)

Diterbitkan di Berita

Bandung (ANTARA) - Gubernur Jawa Barat M Ridwan Kamil mengatakan bahwa tingkat keterisian tempat tidur pasien di rumah sakit-rumah sakit yang ada di wilayahnya sudah turun menjadi 40 persen.

"Yang pertama (tingkat keterisian tempat tidur) rumah sakit kita sudah turun ke 40 persen. Mudah-mudahan besok lusa turun ke 30 persen, tingkat kesembuhan juga naik di 85, 41 persen, kemudian kasus aktif turun dari sekian puluh ke 12,94 persen," katanya saat menyampaikan keterangan pers secara virtual di Bandung, Selasa.

Menurut data Pusat Informasi dan Koordinasi COVID-19 Jawa Barat (Pikobar), jumlah rumah sakit di wilayah Jawa Barat total 387 rumah sakit, meliputi 337 rumah sakit yang menangani pasien COVID-19 dan 50 rumah sakit yang tidak menangani pasien COVID-19.

Data Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat menunjukkan, tingkat keterpakaian tempat tidur pasien di rumah sakit mencapai 90,91 persen pada 2 Juli 2021, sebelum pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) darurat dari 3 sampai 20 Juli 2021.

Pada 20 Juli, hari terakhir PPKM darurat, tingkat keterpakaian tempat tidur pasien di rumah sakit Jawa Barat turun menjadi 77,04 persen. Tingkat keterisian tempat tidur pasien di rumah sakit yang ada di Jawa Barat terus menurun setelah PPKM Level 3 dan 4 mulai 3 Agustus 2021.

Penurunan tingkat keterpakaian tempat tidur pasien di rumah sakit terjadi seiring dengan penurunan kasus penularan COVID-19.

Gubernur Jawa Barat mengatakan bahwa meski secara keseluruhan di wilayahnya terjadi penurunan jumlah kasus aktif, yang mencakup penderita COVID-19 yang dirawat maupun menjalani isolasi mandiri, namun ada beberapa daerah yang angka kasus aktifnya masih tinggi seperti Kota Depok dan Kota Bandung.

Dia juga mengemukakan bahwa masih ada sekitar 30 ribu penderita COVID-19 yang sudah sembuh atau sudah tuntas menjalani karantina namun belum terlaporkan datanya.

"Minggu ini kita sedang memperbaiki (data) kasus, karena masih ada kasus aktif yang sudah 21 hari tapi belum diperbaharui. Jumlahnya bisa sampai 30 ribu kasus yang kita duga sudah sembuh tapi belum terlaporkan. Ini membuat jumlah kasus aktif lebih realistis," kata dia.

Ia menjelaskan pula bahwa dari 27 kabupaten dan kota yang ada di Jawa Barat, ada 12 kabupaten dan kota yang menerapkan PPKM Level 4, 14 kabupaten dan kota yang menerapkan PPKM Level 3, dan satu kabupaten, Tasikmalaya, yang menerapkan PPKM Level 2 hingga 16 Agustus 2021.

Pewarta: Ajat Sudrajat
Editor: Maryati
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Diterbitkan di Berita

JAKARTA, KOMPAS.TVPemanfaatan tempat tidur di Rumah Sakit Darurat Wisma Atlet Kemayoran terus mengalami penurunan.

Pada Jumat (6/8/2021) siang, tercatat ada 217 pasien yang dinyatakan sembuh dari Covid-19 dan dipulangkan dari RSD Wisma Atlet Kemayoran.

“Untuk update hari ini memang turun lagi, sekarang di angka 2002, ini kira kira BOR-nya (Bed Occupancy Rate) itu 25,36%,” kata Koordinator Humas RSD Wisma Atlet Kemayoran, Kolonel Mintoro Sumego, Jumat (6/8/2021).

Kolonel Mintoro Sumego menambahkan, pasien yang masih menjalani perawatan di RSD Wisma Atlet Kemayoran merupakan pasien bergejalan ringan, sedang, hingga berat dengan komorbid.

“Kita masih tetap pasien-pasien yang dirawat di sini adalah dengan gejala ringan maupun sedang dan berat dengan komorbid. Jadi tetap dengan sesuai dengan SOP yang ada,” ujarnya.

“Dengan menurunnya pasien sekarang tower 4 sudah kosong, untuk sementara di-standby-kan (disiapkan). Jadi sekarang yang dipakai adalah tower lima enam dan juga tujuh.”

Meski demikian, Mintoro Sumego menuturkan untuk keterisian ruang ICU di RSD Wisma Atlet Kemayoran masih cukup tinggi, yaitu berada di angka 70 persen.

“ICU sekarang dihuni oleh 70 persen pasien dari 39 tempat tidur yang ada, terus di tower enam dan tujuh juga ada perbaikan ICU intermediat care dan HCU jumlahnya nanti ditingkatkan,” jelas Kolonel Mintoro Sumego.

Tower delapan digunakan bagi mereka yang repatriasi nah begitu hasil swabnya positif maka mereka akan digeser ke wisma atlet.”

Kolonel Mintoro Sumego menuturkan salah satu faktor yang membuat keterisian RSD Wisma Atlet Kemayoran turun adalah adanya penerapan Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Level 4.

Selain itu, angka pasien yang sembuh lebih tinggi jika dibandingkan dengan pasien positif baru Covid-19.

“Yang masuk ke sini yaitu 100 sampai 150 pasien perhari, sedangkan untuk pasien yang sembuh itu lebih banyak di angka 300 sampai 400 jadi trennya memang lebih banyak yang sembuh,” jelasnya.

“Kedua mungkin juga karena PPKM ketat pasien bisa saja dirawat di rumah tanpa gejala isolasi mandiri.”

Dalam keterangannya, Kolonel Mintoro Sumego, pasien Covid-19 di RSD Wisma Atlet Kemayoran rata-rata dirawat 10-12 hari.

Namun, sambungnya, ada juga pasien Covid-19 yang dirawat hingga 26 hari.

“Obat dan oksigen juga cukup, oksigen kita banyak bantuan, baik oksigen tabung dan kita juga sudah menggunakan liquid oksigen di ruang ICU (Intermediat Care Unit) dan HCU,” jelasnya.

Kemudian, tambahnya, berdasarkan keterangan pasien yang dirawat di RSD Wisma Atlet kebanyakan tertular dari klaster keluarga dan perkantoran.

“Hampir 70 persen tapi di angka 20 persen itu kebanyakan dari keluarga yang sisanya itu dari kantor,” ujarnya.

Penulis : Ninuk Cucu Suwanti | Editor : Gading Persada

Diterbitkan di Berita