Jakarta (ANTARA) - Booster atau suntikan tambahan vaksin COVID-19 Pfizer dikatakan menghasilkan lebih banyak antibodi dan bahkan lebih baik dalam mencegah infeksi SARS-CoV-2, menurut data awal studi.

Para peneliti di Tel Hashomer Hospital, Israel menemukan antibodi yang dihasilkan suntikan booster mampu memberikan perlindungan yang lebih baik dibandingkan dengan dua dosis pertama vaksin.

Selain itu, suntikan booster juga terbukti efektif setidaknya selama 9-10 bulan atau bahkan lebih lama, demikian seperti dikutip dari Medical Daily, Kamis.

Temuan ini didapat setelah para peneliti menganalisis data dari 728.321 orang yang menerima suntikan booster. Mereka lalu membandingkannya dengan data kelompok orang yang sama saat hanya mendapat suntikan dua dosis vaksin.

“Hasilnya menunjukkan dengan cara yang sangat meyakinkan dosis ketiga vaksin sangat efisien,” kata kepala inovasi Clalit, Ran Balicer. Badan POM Amerika Serikat (FDA) secara resmi mengizinkan penggunaan booster vaksin COVID-19 Pfizer-BioNTech pada September lalu.

Selama peluncuran awal, individu berusia 65 tahun ke atas harus diprioritaskan, bersama dengan orang berusia 18-64 tahun yang berisiko tinggi menderita infeksi parah.

Sebulan setelahnya, FDA juga secara resmi mengizinkan penggunaan booster untuk vaksin Moderna dan Johnson & Johnson (J&J atau Janssen).

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) kemudian mengeluarkan pedoman bahwa penerima vaksin Pfizer, Moderna dan Janssen diizinkan untuk mendapatkan suntikan booster dari salah satu dari tiga merek itu.

Namun, CDC mengatakan, beberapa penerima J&J mungkin menyukai booster dari dua merek lainnya karena vaksin Janssen memiliki efektivitas yang lebih rendah dibandingkan dengan vaksin berbasis mRNA.

Pewarta: Lia Wanadriani Santosa
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2021

 

Sumber: https://www.antaranews.com/berita/2516101/booster-vaksin-covid-19-pfizer-efektif-9-10-bulan

 

 

Diterbitkan di Berita

Menteri Kesehatan Sajid Javid mengatakan kepada anggota parlemen bahwa pemerintah telah menerima rekomendasi dari Komite Bersama untuk Vaksinasi dan Imunisasi (JCVI) dan akan mulai menawarkan suntikan penguat minggu depan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah meminta negara-negara kaya untuk menunda suntikan penguat sampai setiap negara telah memvaksinasi setidaknya 40% populasi mereka.

"JCVI menyarankan agar dosis penguat ditawarkan kepada mereka yang lebih rentan, untuk memaksimalkan perlindungan individu menjelang musim dingin yang tidak terduga," kata Profesor Wei Shen Lim, ketua panel. "Sebagian besar orang-orang ini juga akan memenuhi syarat untuk mendapatkan vaksin flu tahunan dan kami sangat menyarankan mereka menerima tawaran ini juga."

JCVI mengatakan suntikan penguat diperlukan untuk memastikan orang yang rentan terlindungi dari COVID-19, karena penelitian telah menunjukkan bahwa kekebalan yang diberikan oleh vaksin melemah dari waktu ke waktu. Panel tersebut merekomendasikan agar setiap orang di atas 50 tahun, serta petugas kesehatan, orang-orang dengan kondisi kesehatan yang mendasarinya, dan mereka yang tinggal dengan orang-orang yang mengalami imunosupresi, mendapatkan suntikan penguat setidaknya enam bulan setelah mereka menerima dosis vaksin kedua, seperti dikutip dari Medical Xpress, Rabu (15/9/2021).

Langkah itu dilakukan meskipun ada seruan WHO untuk menunda dosis penguat di tengah kekurangan vaksin global. Badan tersebut mengatakan bahwa COVID-19 akan terus mengancam orang di mana-mana sampai semua negara memvaksinasi cukup banyak orang untuk mencegah varian baru yang berpotensi berbahaya.

Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengulangi seruan itu pekan lalu setelah banding yang disampaikan sebelumnya diabaikan secara luas.

“Saya tidak akan tinggal diam ketika perusahaan dan negara yang mengontrol pasokan vaksin global berpikir bahwa orang miskin dunia harus puas dengan sisa,” katanya pada 8 September. 

Pejabat WHO bersikeras pembenaran ilmiah untuk penguat masih belum jelas.

 
 
Diterbitkan di Berita

AS Gunakan Pfizer Sebagai Booster Vaksin

Sabtu, 04 September 2021 09:41

KBRN, Jakarta: Vaksin dosis jenis Pfizer rencanya akan menjadi vaksin booster atau vaksin ketiga untuk masyarakat di Amerka Serikat. 

Hal tersebut diungkapkan melalui seorang sumber yang mengetahui tentang pembahasan mengenai rencana pemberian booster vaksin pada Jumat (3/9/2021) kemarin.

Merangkum dari Reuters, Sabtu (4/9/2021) diketahui jika dalam pembahasan tersebut juga membahas tentang vaksin jenis Moderna, yang nantinya juga diajukan sebagai booster tapi ditemukan tidak memadai.

Sementara, Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA) juga membutuhkan data yang lebih kuat dari perusahaan. Sehingga pelaksanaan vaksin booster tersebut dapat dilakukan mungkin beberapa minggu di belakang Pfizer/BioNTech.

Sebelumnya, pejabat kesehatan AS telah mengatakan bahwa booster atau dosis ketiga vaksin Covid-19 akan tersedia secara luas pada 20 September untuk orang Amerika yang menerima dua dosis vaksin Pfizer/BioNTech atau Moderna setidaknya delapan bulan sebelumnya.

Biden pun sempat mengatakan bahwa pemerintah mengharapkan untuk memberikan 100 juta suntikan booster secara gratis di sekitar 80 ribu lokasi di seluruh AS.

Namun, rencana ini sempat menimbulkan perdebatan karena Gedung Putih disebut melangkahi FDA dan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) dalam membuat keputusan berbasis sains semacam ini.

Diterbitkan di Berita

Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Keuangan Sri Mulyani menyebut akses booster vaksin covid-19 untuk masyarakat umum akan dimulai tahun depan. "Untuk mereka yang akan melakukan boosting akan dibuka ruang tahun depan," ujar Ani, sapaan akrabnya, dalam rapat bersama Banggar DPR RI, Rabu (25/8).

Pemerintah, lanjut dia, juga membuat ruang untuk program vaksin mandiri tahun depan. Artinya, masyarakat akan memiliki opsi vaksin berbayar mulai 2022.

Pun demikian, Ani memastikan pemerintah akan tetap mengalokasikan dana untuk menjalankan program vaksin gratis pada 2022 nanti. Jumlah alokasi dana untuk vaksin covid-19 sebesar Rp3 triliun tahun depan.

"Pemerintah menjamin untuk tetap menganggarkan pengadaan vaksin gratis, sehingga program vaksinasi akan tetap Rp3 triliun," terang dia.

Sementara, pemerintah mengalokasikan dana sebesar Rp77 triliun untuk program pemulihan ekonomi nasional (PEN) klaster kesehatan tahun depan. Mayoritas dana atau sebesar Rp20 triliun digunakan untuk penanganan covid-19.

"Kalau nanti pasien menurun, angka ini tidak terealisasi, kami berharap seperti itu," imbuhnya. Ia menambahkan pemerintah juga menganggarkan dana sebesar Rp6,5 triliun untuk mengantisipasi hal-hal tak terduga dalam penanganan covid-19, khususnya jika timbul varian baru covid-19 selain delta.

"Antisipasi kalau sampai terjadi munculnya varian seperti delta, kami beri antisipasi belanja Rp6,5 triliun," tandasnya.

(bir/bir)

Diterbitkan di Berita

Jakarta (ANTARA) - Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin mengatakan pemberian vaksin untuk dosis ketiga (booster) untuk tenaga kesehatan (nakes) bisa mencampurkan dua jenis vaksin berbeda.

"Dicampur (jenis vaksin)-nya bisa," kata Budi saat ditemui tengah meninjau Sentra Vaksinasi Ikatan Alumni Taruna Nusantara (IKASTARA) di Ancol Beach City (ABC) Mall, Pantai Carnaval, Taman Impian Jaya Ancol, Sabtu.

Ia mengatakan pemerintah sedang bekerja keras untuk mencapai target vaksinasi pada Agustus sebanyak 70 Juta per bulan.

Sedangkan, jumlah dosis yang datang dalam kurun waktu tujuh bulan, dari Januari hingga akhir Juli 2021, baru 90 juta. Adapun vaksin yang Pemerintah Republik Indonesia dapat saat ini sekitar 140 juta dosis vaksin Covid-19.

"Jadi harus di vaksinnya, betul-betul kerja keras. Dan enggak mungkin pemerintah melakukan sendiri, kalau tidak berkolaborasi dengan seluruh unsur masyarakat. Harus kita bangun Gerakan Vaksinasi Nasional lah, jangan hanya diprogram pemerintah," kata Budi.

Ia percaya kalau semua komponen bangsa sudah datang bergotong royong dan bekerja sama, seharusnya pandemi ini bisa diatasi dan menjadi hadiah paling bagus untuk menyambut Hari Kemerdekaan nanti.

"Vaksin booster itu jangan dulu, masih 140 juta baru dapat. Jadi vaksin booster baru buat nakes saja dulu ya," kata Menkes RI menjelaskan.

Pewarta: Abdu Faisal
Editor: Ganet Dirgantara
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Diterbitkan di Berita