KBRN, Sidoarjo: Remisi lebaran rupanya juga didapatkan terpidana bom Bali, Umar Patek alias Hisyam bin Alizein alias Abu Syekh, tampak ceria wajahnya tak bisa menyembunyikan raut kebahagiaan, dirinya mendapatkan remisi selama 2 bulan 15 hari.

Remisi itu diberikan secara simbolis oleh Kalapas Kelas I Surabaya di Porong Gun Gun Gunawan bersama 1.371 napi yang lain. Mereka mendapat remisi mulai dari 15 hari hingga 2 bulan. Bahkan ada yang bebas.

"Kami hari ini sangat senang, dan bersyukur kepada Allah, karena mendapatkan remisi satu bulan 15 hari," kata Umar kepada wartawan usai mendapat remisi di Lapas Porong, Kamis (13/5/21).

Umar berharap dirinya terus mendapatkan remisi, agar secepatnya bebas dan kembali bisa berkumpul ke masyarakat. Rencananya, dirinya akan andil memberikan edukasi agar para milenial tidak mengikuti ajaran-ajaran radikalisme.

"Kami sampai dengan saat ini menjadi napi di Lapas Porong sudah mendapatkan remisi jumlah totalnya 15 bulan, 15 hari," jelas Umar Patek.

Umar Patek merupakan napi teroris (Napiter) kasus bom Bali yang divonis 20 tahun penjara oleh PN Jakarta Barat. Selama menjalani hukuman di Lapas Kelas I Surabaya di Porong baru mendapatkan remisi 15 bulan, 15 hari. Dari data yang diperoleh bahwa Umar Patek diperkirakan bebas tahun 2024.

Sementara Kalapas Kelas I Surabaya di Porong Gun Gun Gunawan mengatakan, jumlah napi yang memenuhi syarat mendapat remisi dari Kemenkumham sebanyak 1.371 napi. Dengan rincian, Remisi Khusus (RK) 1 sebanyak 1.351 napi, sementara RK 2 sebanyak 20 napi.

"Yang 19 napi masih menjalani subsiber, yang 1 napi bebas langsung," kata Gun Gun.

Dia menjelaskan, remisi dari jenis kejahatannya, narkoba 988 napi, tipikor 3 napi, pidana umum 379 napi, sementara itu napiter 1 orang. Rincian jumlah remisi RK 1 di antaranya, remisi dua bulan 112 napi, 1 bulan 15 hari sebanyak 320 napi, yang mendapat remisi 1 bulan sebanyak 896 napi, yang mendapat remisi 15 hari sebanyak 22 napi.

"Sementara rincian RK 2, yakni remisi 2 bulan sebanyak 2 napi. Yang mendapat 1 bulan 15 hari sebanyak 14 napi. Yang mendapatkan 1 bulan 4 napi, sedangkan yang mendapatkan 15 hari 1 napi," pungkasnya.

Diterbitkan di Berita

Deden Gunawan, Audrey Santoso - detikNews Jakarta - Pelaku Bom Bali I Ali Imron mengatakan paham terorisme sulit hilang dari Indonesia. Ali Imron menuturkan ada sejarah panjang yang menyebabkan jiwa radikal di tengah masyarakat berkembang.

"(Deradikalisasi) itu sampai sekarang saya lakukan. Itu saja sangat sulit untuk mengerem. Jadi sulit sekali. Indonesia ini beda, beda dengan tetangga kita, Malaysia," kata Ali Imron kepada Blak-blakan detikcom di Polda Metro Jaya, Jumat (2/4/2021).

Ali Imron menyebut Negara Islam Indonesia (NII) pernah ramai disorot dan setelah itu dilarang. Ali Imron dan kawan-kawannya di Jamaah Islamiyah adalah penerus cita-cita tokoh NII.

"Latar belakang Indonesia pernah ada NII, ini ada penerusnya, di antaranya kami ini, Jamaah Darul Islam. Bahkan Jamaah Darul Islam dimasukkan sebagai pemberontakan DI/TII," ucap Ali Imron.

"Kami inilah yang akhirnya mengawali aksi teror dengan cara pengeboman di Indonesia. Jadi latar belakang di situ beda. Lalu ada terjadi juga kerusuhan di Tanjung Priok (tahun) 1984, kerusuhan di Talang Sari, Lampung," sambung Ali Imron.

Dia menyampaikan peristiwa-peristiwa itu memiliki dampak signifikan terhadap penyebaran paham radikal. Oleh sebab itu, lanjut dia, penanganan terorisme dan radikalisme di Indonesia jauh berbeda dengan negara-negara tetangga.

"Ini kerusuhan-kerusuhan yang membawa dampak yang luar biasa terhadap perkembangan yang dianggap--sekarang bahasanya itu--radikal. Jadi beda, beda sekali kalau disamakan dengan negara-negara yang lain," tutur Ali Imron.

Dia kemudian menceritakan, konflik horizontal di Indonesia pulalah yang melatarbelakangi dirinya bersama kelompok JI bertolak ke Afganistan. Dia menyebut, sejak 1985 hingga 1996, ada ratusan warga negara Indonesia (WNI) yang hijrah ke Afganistan.

"Begitu juga karena latar belakang itulah, dari kami berangkat ke Afganistan. Ratusan orang dari tahun '85 sampai '96, saya yang nutup itu, itu belum selesai," terang Ali Imron.

"Begitu Taliban berkuasa, mulailah dari orang JI, yaitu Hambali sama Mukhlas almarhum, hubungan sama Osama (Osama bin Laden), kirim lagi ke Afganistan," lanjut Ali Imron

Masih kata dia, Ali Imron dan kelompoknya kemudian menemukan masyarakat yang dinilai satu perjuangan dengan mereka, yaitu masyarakat di Mindanao, Filipina Selatan.

"Kemudian mulai '94, kami menemukan tempat di Mindanao, Filipina Selatan, karena ada jihad di sana, Muslim Uighur melawan pemerintah sana," ujar Ali Imron.

Ali Imron juga memohon kepada masyarakat untuk tak mengembuskan isu liar tatkala ada kejadian teror. "Mohon jangan berkomentar seperti itu, contohnya kalau ada aksi (teror), 'Oh itu rekayasa', 'Oh itu konspirasi," tutup Ali Imron.

Diterbitkan di Berita