Jakarta, NAWACITAPOST – Penyekatan yang dilakukan di jembatan Suramadu 5 Juni lalu menjadi kontroversi yang berakhir demonstrasi. Demonstrasi dilakukan sejumlah warga pada Senin (21/6/2021) karena menganggap penyekatan sebagai tindakan diskriminatif.

Kebijakan tersebut mengharuskan pengguna jalan yang melintasi Suramadu menunjukkan surat keterangan bebas Covid-19, atau menjalani tes antigen dan dinyatakan nonreaktif agar dapat melintasi Suramadu.

Penerapan keputusan itu menuai kontroversi dari beberapa warga Madura, pasalnya waktu pengguna jalan tersita banyak hanya untuk mengantri swab antigen, selain itu kebijakan dianggap tidak efisien.

Berdasarkan kondisi tersebut, posko penyekatan dipindah dari Suramadu ke Bangkalan, kini kebijakan terebut diterapkan di 8 Desa yang masuk ke dalam 5 kecamatan PPKM mikro di Provinsi Jatim.

Bangkalan merupakan wilayah yang menjadi zona merah tunggal di Jawa Timur. Hal ini membuat kebijakan itu terpaksa diambil, terlebih varian Delta sudah terdeteksi di daerah tersebut.

Benar adanya, sekitar 1.500 orang menunjukkan gejala reaktif saat 15 hari pertama pemberlakuan kebijakan.

Predikat zona merah ini berdasarkan data kasus Covid-19 yang meningkat di Jawa Timur, per tanggal 21 Juni 2021 dari total jumlah 4.808 kasus, Bangkalan menyumbang angka 18,5 persennya.

Pemerintah Kabupaten Bangkalan terus berjuang menekan penyebaran Covid-19, dan berusaha menangurangi angka kematian terbanyak akibat Covid-19 dari Jawa Timur.

 

Diterbitkan di Berita
Konten ini diproduksi oleh BASRA (Berita Anak Surabaya)
 
Adanya kasus atau kejadian luar biasa COVID-19 di Bangkalan, Madura, Jawa Timur, tentu tidak bisa diatasi dengan penanganan medis saja.
Faktor non medis juga harus menjadi perhatian, karena permasalahan sosial kemasyarakatan juga berpengaruh terhadap upaya penangan COVID-19. Untuk itu, peran relawan pendaming sangat dibutuhkan.
 
Relawan RSLI bersama Nadia Bafagih, aktivis kemanusiaan Jatim dan beberapa relawan lainnya bergotong-royong membantu menanggulangi pandemi COVID-19 utamanya dari sisi pendekatan non-medis untuk masyarakat di Bangkalan. 
Untuk itu, mereka berkoordinasi dengan Baznas Bangkalan dalam rangka merencanakan bantuan penanganan COVID-19.
 
Nadia Bafagih mengatakan, ada beberapa usulan dan konsep dari relawan untuk menekan angka penyebaran COVID-19. Salah satunya yakni tentang pentingnya edukasi pada masyarakat awam terkait pemahaman COVID-19.
Menurut Nadia, masyarakat hendaknya disadarkan kembali pentingnya menjaga diri dan keluarga untuk terhindar dari penyebaran COVID-19 yang saat ini menyebar dengan cepat di sebagian kabupaten Bangkalan, yaitu di Arosbaya, Geger dan Klampis.
 
"Kondisi ini membutuhkan percepatan dalam penanganannya. Mengingat situasi yang kedaruratan serta membutuhkan peran dan dukungan dari banyak pihak di luar paramedis atau faskes setempat," kata Nadia, Jumat (11/6).
Bahkan pihaknya juga mengajak masyararakat untuk mau menggunakan masker dan merubah kebiasaan pemahaman stigma yang ada dalam masyarakat bahwa COVID-19 tidak ada sama sekali.
 
"Ini juga sekaligus untuk mengubah jargon atau candaan yang selama ini beredar dan meninabobokkan warga, yakni COVID-19 tidak ada di Madura. Dengan kondisi kejadian luar biasa di Bangkalan, hendaknya dijadikan koreksi dan instrospeksi diri bagi yang masih meragukannya," jelas Nadia.
 
Berkaca dari Bangkalan, Guyonan "Tidak Ada COVID-19 di Madura" Harus Dihilangkan (1)
Tim relawan melakukan koordinasi dengan Baznas Bangkalan untuk menekan angka penyebaran COVID-19.
 
Dengan kultur yang ada di Bangkalan, Nadia menuturkan pelibatan dan pengutamaan Baznas Bangkalan sebagai garda depan dalam pelaksanaan berbagai program tersebut adalah pilihan yang tepat. 
 
Dengan mengkoordinasikan para tokoh agama dan pondok pesantren, ustadz, modin, hingga tokoh masyarakat di kampung-kampung, dapat direncanakan dan dijalankan berbagai aktifitas dalam bentuk kampanye hidup sehat, peningkatan kapasitas dan pengeetahuan terkait COVID-19 serta peningkatan keterlibatan santri, peserta didik dan keluarganya dalam prilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) serta pelaksananan 5M sebagai kunci mengatasi COVID-19.
 
Tidak kalah penting adalah upaya penguatan dan peningkatan imunitas melalui asupan makanan bergizi, serta rasa gembira dan suasana keseharian yang tenang sehingga dapat berkontribusi bagi ketangguhan masyarkat menghadapi COVID-19, khususnya di Bangkalan.
 
"Mengingat kondisi yang urgen dan membutuhkan penanganan dengan segera, semua pihak yang hadir sepakat untuk menyegerakan pelaksanaan program tersebut. Perencanaan ini akan dituntaskan dalam minggu ini, sehingga harapannya minggu depan sudah bisa dimulai," pungkasnya.
Diterbitkan di Berita

BBC News Indonesia

Setelah Kota Kudus di Jawa Tengah, lonjakan tajam kasus Covid-19 kini terjadi di Bangkalan, Pulau Madura, Jawa Timur. Seluruh tempat tidur rumah sakit yang disediakan untuk pasien Covid-19 di kabupaten itu sekarang sudah terisi hampir 100%.

Pakar kesehatan masyarakat menduga jumlah kasus Covid-19 di Bangkalan sebenarnya jauh lebih besar ketimbang yang sudah tercatat. Jumlah tes yang minim disebutnya menyembunyikan banyak kasus di bawah permukaan.

Otoritas kesehatan di Jawa Timur mengeklaim telah membatasi kegiatan warga tiga kecamatan di Bangkalan yang digolongkan zona merah. Namun apakah upaya ini cukup?

Ginan, warga Bangkalan, mengaku telah mengurangi aktivitas di luar rumah sejak pandemi terjadi. Risiko dirinya tertular virus corona kini meningkat karena dua kampung di sebelah desanya tengah diguncang Covid-19.

Khawatir orang tuanya yang berusia lanjut terpapar Covid, Ginan berharap pemerintahan Bangkalan berupaya maksimal mengatasi penyakit ini.

"Sejak pandemi saya jarang keluar rumah. Kalau mau berkumpul dengan keluarga ya di rumah saja," ujarnya, Senin (07/06).

"Saya cemas karena daerah yang rawan berdekatan dengan desa saya. Orang tua dan nenek saya di rumah sudah lansia. Mereka juga sering batuk-batuk.

"Bupati sebagai pimpinan semestinya tegas, apa saja yang harus dilakukan dalam kondisi seperti ini," kata Ginan.

 

Madura

Warga memperlihatkan surat keterangan bebas Covid-19 kepada petugas di Pelabuhan Jangkar, Situbondo, Jawa Timur, Senin (07/06\). ANTARA FOTO

 

Tiga kecamatan di kabupaten yang berada di Pulau Madura itu, yaitu Arusbaya, Klampis, dan Bangkalan, dinyatakan sebagai zona merah kasus Covid-19.

Dua puskesmas dan satu rumah sakit umum milik daerah di tiga kecamatan itu ditutup dalam beberapa hari terakhir. Puluhan tenaga kesehatan di lembaga itu positif Covid.

Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Bangkalan, Agus Sugianto Zein, menyebut 87 dari 90 tempat tidur khusus pasien penyakit ini juga telah terisi.

Padahal, merujuk standar penanganan pandemi yang disusun Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), keterisian tempat tidur khusus ini semestinya tidak boleh lebih dari 60%.

Lonjakan kasus ini, menurut Agus, dipicu aktivitas silaturahmi tatap muka masyarakat saat libur Idul Fitri lalu dan arus kepulangan pekerja migran dari luar negeri.

"Ada tradisi saling mengunjungi saat lebaran. Saat itu masyarakat mungkin sudah mengabaikan protokol kesehatan," kata Agus.

"Situasi itu ditambah kepulangan pekerja migran yang paling banyak ke Kecamatan Arusbaya. Jadi kami sekarang meminta kegiatan masyarakat di sana diperketat," ucapnya.

 

Madura

Pelaku perjalanan antre tes antigen saat turun kapal feri dari Sumenep di Pelabuhan Jangkar, Situbondo, Jawa Timur, Senin (07/06). ANTARA FOTO

 

Kondisi faktual pandemi di Bangkalan diyakini lebih buruk oleh epidemiolog dari Universitas Airlangga, Windhu Purnomo.

Sejak awal pandemi, Windhu menyebut jumlah tes Covid-19 yang dilakukan terhadap warga Bangkalan dan tiga kabupaten lain di Pulau Madura tergolong rendah.

Angkanya, kata dia, lebih rendah dibandingkan rata-rata nasional yang secara global termasuk yang terbawah di antara lebih dari 200 negara.

"Bangkalan, Sampang, Pamekasan, dan Sumenep selama berbulan-bulan masuk zona kuning. Itu aneh karena kalau Anda datang ke Madura, Anda akan jarang bertemu orang memakai masker," ujar Windhu.

"Di pasar yang ramai, orang-orang tidak pakai masker. Mereka bilang virus corona itu tidak ada.

"Artinya, perilaku mereka tidak tergambarkan dalam jumlah kasus. Kasus yang tercatat seolah rendah. Bahkan suatu ketika disebut kasus positif hariannya nol," ucapnya.

 

Madura

Antrean pengendara motor terjadi di akses keluar Jembatan Suramadu, Minggu (06/06) akibat penyekatan dan tes antigen acak di lokasi itu. ANTARA FOTO

 

Pada 6 Juni lalu, Bangkalan adalah daerah di Jatim dengan jumlah kasus positif baru terbanyak, yaitu 23 kasus. Ini berdasarkan data resmi Dinas Kesehatan provinsi tersebut.

Dua kabupaten lain di Pulau Madura, yakni Sumenep dan Pamekasan masing-masing mencatat 14 dan dua kasus positif baru.

Sementara satu di kabupaten lainnya, yaitu Sampang, yang berada di antara Bangkalan dan Pamekasan, diklaim tidak muncul satu pun kasus positif.

"Unsur pimpinan di Forkopimda di daerah-daerah memang tidak ingin daerah itu melakukan tes dan penelusuran kontak yang bagus supaya kasusnya tidak terlihat banyak," kata Windu.

"Selama dua hal ini tidak dilakukan dengan baik, maka kasus sebenarnya ada di bawah permukaan dan itu adalah bom waktu," ucapnya.

Forkopimda yang disebut Windhu adalah forum koordinasi yang melibatkan kepala daerah, ketua DPRD, dan orang nomor satu dari lembaga kepolisian, militer, kejaksaan, dan pengadilan di suatu daerah.

Namun setelah muncul 66 kasus baru di Bangkalan dalam sepuluh hari terakhir, otoritas setempat mengeklaim telah menggelar tes massal dan menelusuri kontak erat orang-orang yang positif Covid.

"Kami sudah tracing dan swab massal di Kecamatan Arusbaya. Total ada 170 orang yang kami tes. Memang belum ada hasilnya tapi sekarang tes ini juga masih dilanjutkan," kata Agus Sugianto dari Satgas Covid Bangkalan.

 

Madura

Lonjakan kasus Covid-19 juga terjadi di Kudus, Jawa Tengah. Foto ini perlihatkan 23 pasien Covid-19 di kota itu yang dipindahkan ke Boyolali untuk melakukan isolasi. ANTARA FOTO

 

Bagaimanapun, epidemiolog Windhu Pramono mendesak pemerintah menangani Covid di Bangkalan secara komprehensif.

Windhu menilai pemerintah semestinya menutup Bangkalan secara penuh. Artinya, kata dia, warga kabupaten itu untuk sementara perlu dilarang keluar-masuk daerahnya, kecuali untuk keperluan yang benar-benar mendasar.

Akhir pekan kemarin kepolisian melakukan tes acak kepada pengendara dari Bangkalan yang menuju Surabaya.

Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, mengeklaim dari tes acak itu ditemukan setidaknya 70 orang yang positif Covid.

Siasat ini menurut Windhu tidak efektif karena tidak semua orang dari Bangkalan melewati tes. Mobilitas warga Bangkalan ke tiga kabupaten lain di Madura yang berada di sisi timurnya pun tidak dibatasi.

"Bangkalan sementara ini harus dikunci. Kemarin ada penyekatan di Suramadu, tapi hanya sampai Magrib. Itu apa gunanya? Orang akan cari celah di luar jam penyekatan," kata Windhu.

"Orang Indonesia kan alergi dengan kata 'lockdown'. Ya sebut saja strategi itu PSBB. Pada saat yang sama ada pencarian kontak erat.

"Jadi strateginya bukan uji petik. Ini kan bukan untuk survei. Tujuan kita untuk isolasi orang yang tertular," ujarnya.

 

Kudus

Di Kudus, ratusan tenaga kesehatan terpapar Covid-19. Salah satu dari mereka meninggal. ANTARA FOTO

 

Namun penutupan wilayah seperti ini bukan siasat yang dipilih pemerintah setempat.

Yang diterapkan adalah PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat) berskala mikro di tiga kecamatan zona merah Bangkalan, kata Juru Bicara Satgas Covid-19 Jawa Timur, Makhyan Jibril al Faribi.

"Tidak ditutup total, intervensinya membatasi pergerakan. Orang-orang yang bergejala dites dan jika hasilnya positif mereka akan diisolasi,"ujarnya.

 

madura

Polisi menggelar sosialisasi protokol kesehatan di pos pemeriksaan di akses keluar Jembatan Suramadu, akhir Mei lalu. Kegiatan itu untuk mengingatkan kepada masyarakat agar tetap menerapkan protokol kesehatan dalam kesehariannya karena pandemi Covid-19 belum berakhir. ANTARA FOTO

 

Ledakan kasus Covid seperti di Bangkalan disebut Windhu Pramono berpotensi terjadi di berbagai daerah karena tren tes dan pelacakan kasus yang semakin rendah.

Pekan lalu, lonjakan kasus yang diduga berkaitan dengan libur lebaran terjadi di Kudus, Jawa Tengah.

Sama seperti Bangkalan, rumah sakit di Kudus juga tak mampu lagi menangani pasien Covid. Ratusan nakes di kota itu terpapar virus corona walau telah mendapatkan vaksin.

Saat pasien Covid di Bangkalan dirujuk ke Surabaya, warga Kudus dengan virus corona dilarikan ke Semarang.

Pemerintah Kudus mengeluarkan imbauan agar setiap penduduk tetap berada di rumah untuk memutus rantai penularan.

Namun surat itu tidak memerintahkan penutupan tempat seperti pasar, pusat perbelanjaan, dan pabrik.

 

Madura

Polisi melakukan penyekatan di Suramadu usai kasus Covid-19 di Bangkalan melonjak. DETIKCOM

 

Presiden Joko Widodo menggelar rapat khusus di Jakarta terkait kasus Kudus dan Bangkalan, Senin pagi kemarin.

Usai rapat itu, Menteri Kesehatan Budi Sadikin Gunadi meminta pemerintah daerah untuk mendata dan melaporkan secara detail setiap kasus positif yang terkonfirmasi.

"Saya minta dilaporkan secara lengkap supaya kita bisa melakukan antisipasi kalau ada yang terkena," ujarnya.

Budi juga meminta masyarakat untuk tidak menolak tim penelusuran kasus. "Jangan ditolak. Kalau Anda terpapar, jangan khawatirkan citra Anda. Siapa saja rekan terdekat, akan kita tes," ucapnya.

Tren lonjakan kasus yang terkait musim libur lebaran juga terjadi di berbagai daerah yang menjadi tujuan mudik.

Berdasarkan data Satgas Covid-19, provinsi dengan kenaikan kasus mingguan tertinggi setelah lebaran ini adalah DKI Jakarta, Jawa Tengah, DIY, NTB, Lampung, Aceh, dan Riau.

---

Wartawan di Bangkalan, Mustopa, berkontribusi untuk liputan ini.

Diterbitkan di Berita

Liputan6.com, Jakarta Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengatakan bahwa untuk mengatasi lonjakan kasus COVID-19, pasien di Kudus dan Bangkalan akan dirujuk ke rumah sakit yang ada di sekitar wilayah tersebut.

"Kenaikan yang tinggi ini karena ada peningkatan kasus secara spesifik di klaster ini. Karena memang Kudus adalah daerah ziarah, sedangkan di Madura banyak pekerja migran Indonesia yang pulang dari negara tetangga," kata Menkes dalam konferensi pers, Senin (7/6/2021).

Budi pun mengatakan strategi pertama yang dilakukan untuk mengatasi situasi tersebut adalah dengan mengurai tekanan yang ada di rumah sakit, dengan cara merujuk pasien-pasien bergejala sedang dan berat ke kota terdekat.

"Untuk Kudus ke Semarang. Untuk Bangkalan ke Surabaya. Alhamdulillah, kapasitas rumah sakit di Semarang dan juga kapasitas rumah sakit di Surabaya itu cukup untuk menerima rujukan dari daerah Kudus dan Bangkalan," kata Budi Gunadi dari Istana Kepresidenan Jakarta.

Selain itu, Menkes juga mengatakan bahwa pemerintah telah bekerja sama dengan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) untuk mengirimkan tenaga kesehatannya nya ke dua daerah tersebut.

Menurut Menkes, pengiriman dokter dan perawat dilakukan untuk mengisi kekosongan dan mengurangi tekanan tekanan kesehatan setempat, yang cukup banyak terpapar COVID-19.

Minta Pemda Perketat Protokol Kesehatan

"Di Kudus ada sekitar 300-an lebih tenaga kesehatan yang sudah terpapar, karena sudah divaksin semua, alhamdulillah sampai sekarang kondisi mereka masih baik," kata Budi Gunadi.

Dia menambahkan bahwa di antara dokter di Kudus yang terinfeksi COVID-19, ada satu orang dokter spesialis yang berusia 70 tahun yang kondisinya juga baik.

Sementara di sisi hulu, Budi Gunadi mengimbau agar semua kepala daerah untuk memastikan penerapan protokol kesehatan: memakai masker, menjaga jarak dan mencuci tangan, tetap dijalankan.

"Itu harus diperketat dan harus juga dijelaskan dengan baik," kata Budi.

Minta Warga Tak Tolak Tracing

Menkes juga meminta agar daerah melakukan testing atau pemeriksaan COVID-19 secara disiplin dan dilaporkan secara lengkap. "Dengan demikian kita bisa melakukan langkah antisipasi kalau kita temui ada yang terkena."

Budi pun meminta agar masyarakat yang didatangi petugas pelacakan kontak atau tracing untuk tidak khawatir.

"Tracing-nya jangan ditolak. Kalau Anda terkena tidak usah khawatir. Tidak usah takut bahwa kalau saya kena citranya bagaimana. Kita tanyakan supaya kita bisa mengurangi laju penularan," ujarnya.

Selain itu, Budi juga meminta agar tersedia tempat isolasi mandiri. "Jadi tolong secara swadaya, banyak daerah-daerah yang sudah bisa melakukan tempat isolasi mandiri."

Di sisi lain, Menkes juga sudah menyalurkan 50 ribu vaksin COVID-19 ke Kudus, dan akan segera didistribusikan ke Bangkalan sebanyak 50 ribu dosis.

Infografis Awas Lonjakan Covid-19 Libur Lebaran
Diterbitkan di Berita

Jakarta, CNN Indonesia -- Tokoh ulama asal Bangkalan, Madura, mendiang Syaikhona Muhammad Kholil diusulkan mendapat gelar pahlawan nasional. Ia dinilai menjadi simpul dari pergerakan Islam Nusantara dan penguatan nasionalisme di abad 1800-an.

Syaikhona Kholil dianggap berkontribusi dalam gerakan nasionalisme dengan aktif memberdayakan masyarakat dalam bidang agama, pendidikan, sosial kemasyarakatan dan politik.

Hal itu kemudian menjadi pemantik utama para santri membangkitkan kesadaran politik dan jejaring Islam, yang kemudian menjadi embrio lahirnya gerakan kultural untuk memerangi kolonialisme di Nusantara.

"Syaikhona Kholil menjadi titik sentral penempaan dan pembibitan para calon pejuang dan pahlawan. Hal ini tidak terbantahkan dalam fakta sejarah," kata Ketua Tim Kajian Akademik dan Biografi Syaikhona Kholil, Dr Muhaimin, di Surabaya, akhir pekan.

Santri-santri binaan Syaikhona Kholil hampir seluruhnya menjadi pejuang. Beberapa di antaranya adalah KH Hasyim Asy'ari, KH Wahab Hasbullah dan KH Bisri Syamsuri. Atas pemikiran Syaikhona Kholil dan restunya, ketiganya kemudian mendirikan Nahdlatul Ulama. Dua nama pertama juga telah ditetapkan menjadi pahlawan nasional.

"Santri-santri alumni didikan Syaikhona Kholil Bangkalan lah yang menerjemahkan pemikiran dan gerakan sang guru," kata dia.

Usulan gelar pahlawan nasional untuk Syaikhona Kholil ini salah satunya juga diutarakan oleh Partai Nasional Demokrat (NasDem). NasDem ingin pemerintah memberikan penghargaan bagi guru para pahlawan tersebut.

Ketua Bidang Agama & Masyarakat Adat DPP Partai NasDem, Hasan Aminuddin mengatakan usulan gelar pahlawan untuk Syaikhona Kholil ini telah dicetuskan oleh NasDem 10 tahun lalu. Sebagaimana keinginan Surya Paloh.

"Pak Surya berpesan, saatnya beliau ini, almarhum ini kita angkat, Mas Hasan. [Syaikhona Kholil] kita perjuangkan, menjadi pahlawan nasional," kata Hasan, kata Mantan Bupati Probolinggo ini.

Melalui perwakilannya di DPR RI dan MPR RI, NasDem pun telah resmi mengusulkan nama Syaikhona Kholil ke Kementerian Sosial untuk segera mendapatkan gelar pahlawan. Hal itu mulai dilakukan sejak 2019 silam.

"Berdasarkan aspirasi yang cukup kuat, dan sejarah membuktikan, bahwa Syaikhona Kholil ini gurunya para pahlawan dan gurunya para wali," ucapnya.

Sejarah, kata dia, telah membuktikan, bahwa tidak sedikit para kiai dan pengasuh pondok pesantren di Jawa Timur dan Jawa Tengah, adalah santri Syaikhona Kholil.

Keluarga Syaikhona Kholil, kata dia, memang tak mengharap gelar tersebut. Namun bagi pihaknya negara harus tetap menganugerahkan predikat pahlawan nasional, sebagai bentuk penghargaan terhadap tokoh yang telah berjasa bagi bangsa ini.

"Keluarga Bani dan Duriyah Syaikhona Kholil sebenarnya tidak butuh gelar pahlawan, semestinya negara berkewajiban memberikan gelar pahlawan kepada warga bangsa yang banyak tanamannya terhadap sejarah kemerdekaan di negeri ini," ucapnya.

Selain itu, ajaran Syaikhona Kholil, juga telah memberikan kontribusi Indonesia sampai hari ini. Ajarannya adalah, 'Hubbul Wathan Minal Iman', cinta tanah air bagian dari pada Iman.

Sampai saat ini tercatat barubada 9 Tokoh NU yang mendapatkan gelar pahlawan nasional. Antara lain KH Hasyim Asyari, KH Abdul Wahid Hasyim, KH Zainul Arifin, KH Zainal Musthafa, KH Idham Chalid, KH Abdul Wahab Chasbullah, KH As'ad Syamsul Arifin, KH Syam'un dan KH Masykur.

(frd/ain)

Diterbitkan di Berita