VOA Indonesia - Sebuah stasiun radio Israel menyelenggarakan acara mingguan di mana frasa dan kata-kata dasar dalam bahasa Arab diajarkan untuk meningkatkan pemahaman warga Israel mengenai bahasa Arab, dan untuk mempermudah hubungan lintasmasyarakat antara orang-orang Arab dan Yahudi.

Di Yerusalem, Galei Zahal, stasiun radio militer Israel, menyiarkan acara mingguan yang disebut Arabic Corner atau Pojok Bahasa Arab. Dalam acara tersebut, sang host diajari frasa dan kata-kata dasar dalam bahasa Arab oleh seorang guru tamu.

Acara berdurasi dua puluh menit itu dipandu oleh Ishay Shnerb dan guru tamu Sundos Alhoot. Tujuannya adalah untuk meningkatkan pemahaman orang Israel mengenai bahasa Arab, serta untuk memudahkan hubungan lintasmasyarakat antara orang Arab dan Yahudi.

'Kami memulainya di Galei Zahal untuk mengajarkan lebih banyak orang mengenai kata-kata spesifik dalam bahasa Arab, sehingga setidaknya akan ada satu kata dalam suatu kalimat yang dapat diucapkan dalam bahasa Arab.

Setiap siaran, kami mengajarkan satu topik," ujar Sundos Alhoot, guru bahasa Arab dalam siaran Arabic Corner.

 

Tentara Israel dari Galei Tzahal, stasiun radio tentara Israel, menyiapkan materi untuk acara radio di studio stasiun di Jaffa, Tel Aviv, 10 November 2013. (Foto: REUTERS/Nir Elias)
Tentara Israel dari Galei Tzahal, stasiun radio tentara Israel, menyiapkan materi untuk acara radio di studio stasiun di Jaffa, Tel Aviv, 10 November 2013. (Foto: REUTERS/Nir Elias)

 

Di Israel, jumlah orang Arab yang berbicara dalam bahasa Ibrani jauh lebih banyak daripada jumlah orang Yahudi Israel yang dapat berbicara dalam bahasa Arab.

'Inilah faktanya. Saya tidak tahu bahasa Arab. Saya berusia 27 tahun dan tumbuh besar di sini. Orang-orang Palestina tinggal 100 meter dari rumah orang tua saya. Ada 250 ribu orang Palestina tinggal di Yerusalem sini dan saya tidak memahami bahasa mereka. Saya tidak dapat mengobrol dengan mereka," kata Ishay Shnerb, host Arabic Corner.

Ishay Shnerb mengaku ia tidak dapat berkomunikasi dengan orang-orang Palestina di sekitar tempat tinggalnya bahkan pada tingkat yang paling sederhana.

Shnerb menegaskan ia tidak perlu tahu bahasa Arab formal dan hanya ingin dapat berbicara dengan orang-orang yang tinggal di sekitarnya. Ada satu miliar Muslim dan orang Arab, dan ia tidak tahu bagaimana cara berkomunikasi dengan mereka, lanjutnya.

 

Berbagai lembaga di Israel, seperti Madrassa dan Shaharit, ingin mengubah hal itu dengan mempromosikan belajar bahasa Arab sebagai cara untuk memperbaiki hubungan antara orang-orang Yahudi dan orang Arab.

Sebenarnya ada juga institusi pendidikan lebih dini, seperti sekolah-sekolah yang mengajarkan bahasa Arab dan Ibrani sekaligus, di berbagai penjuru Israel.

Ishay Shnerb mengemukakan mengenai pentingnya mempelajari bahasa pihak lain atau pihak yang berseberangan.

"Anda dapat masuk ke opini politik di tengah masyarakat Israel dan memberikan justifikasi untuk masing-masing pihak. Kalau Anda lebih cenderung berhaluan kiri, Anda ingin lebih banyak berbincang dengan tetangga-tetangga Anda dan dengan orang Palestina serta siapapun yang Anda kehendaki," papar Ishay Shnerb.

 

Seorang tentara Israel dari Galei Tzahal, stasiun radio tentara Israel, berdiri di pintu masuk stasiun radio di Jaffa, Tel Aviv 10 November 2013. (Foto: REUTERS/Nir Elias)
Seorang tentara Israel dari Galei Tzahal, stasiun radio tentara Israel, berdiri di pintu masuk stasiun radio di Jaffa, Tel Aviv 10 November 2013. (Foto: REUTERS/Nir Elias)

 

"Kalau Anda lebih cenderung berhaluan kanan, maka kadang-kadang ada isu seperti ‘kenali musuhmu’, ketahui apa yang mereka rencanakan. Apapun itu, Anda harus tahu bahasanya, Anda harus bisa berbicara atau berbincang-bincang. Orang-orang ini bukannya tak terlihat, mereka ada di sekitar kita," tambahnya.

Ketegangan antara komunitas Arab dan Yahudi mencapai titik tertinggi selama perang terbaru Israel dengan Gaza.

Di kota Lod, ketegangan tersebut menimbulkan kerusuhan dan kematian dua warga: Musa Hassuna, 32, yang dibunuh seorang tersangka penembak Yahudi, dan Yigal Yehoshua, 56, oleh sekelompok penyerang yang diduga adalah orang-orang Arab.

'Sewaktu kita memahami kelompok lain, kita tidak akan takut pada mereka. Dan kita meruntuhkan penghalang ketakutan itu sewaktu belajar bahasa Arab. Kalau Anda tahu bahasa, Anda juga tahu mengenai budaya masyarakat," kata Sundos Alhoot, sang guru tamu bahasa Arab di acara Arabic Corner.

 

Tentara Israel dari Galei Tzahal, stasiun radio tentara Israel, menyiapkan materi untuk acara radio, Tel Aviv tengah, 10 November 2013. (Foto: REUTERS/Nir Elias)
Tentara Israel dari Galei Tzahal, stasiun radio tentara Israel, menyiapkan materi untuk acara radio, Tel Aviv tengah, 10 November 2013. (Foto: REUTERS/Nir Elias)

 

Alhoot memberi contoh ‘Allahu Akbar’, kata-kata yang menunjukkan tentang ketakjuban dalam bahasa Arab. Sewaktu mengatakan ‘Allahu Akbar’, jelas Alhoot, orang Arab mengemukakan sesuatu yang ‘wow’ atau ‘indah’.

Tetapi, kata Alhoot lagi, ada sebagian orang yang ketika mendengar kata-kata ’Allahu Akbar’ kemudian terbersit dalam benak mereka ‘terorisme’, ‘takut’, ‘mengapa ia mengatakan itu?’, atau ‘ini pasti mengenai terorisme.’

Padahal bukan itu maksudnya, tegas Alhoot. Sewaktu murid-murid belajar bahasa Arab, barulah mereka tahu bahwa ‘Allahu Akbar’ adalah semacam ekspresi ketakjuban dan mereka akan mengatakan ‘baik, semuanya baik-baik saja, kata Alhoot. [uh/ab]

Diterbitkan di Berita

Hengki Ferdiansyah islami.co Mayoritas muslim meyakini kelak setiap orang yang meninggal pasti ditanya malaikat di dalam kubur. Ada dua malaikat yang bertanya, namanya Malaikat Munkar dan Nakir.

Mereka bertanya tentang Tuhan, Nabi, Agama, dan Kitab. Siapa Tuhanmu, Siapa Nabimu, Apa Agamu, dan Apa kitabmu.

Sebagian orang meyakini pertanyaan itu dilontarkan dengan menggunakan bahasa Arab. Di media sosial yang ada netizen yang menyatakan, “Setiap manusia akan ditanya di alam kuburnya dengan bahasa Arab dan itu ada pasti.

Jika kalian tidak mau belajar dari sekarang apa yang akan kalian persiapkan di kala malaikat bertanya.”

 

 

Pernyataan ini mengundang respons dan reaksi dari banyak pihak. Kalau memang pertanyaan itu pakai bahasa Arab, bagaimana nasib orang yang tidak bisa bahasa Arab?

Kiai Taufik Damas dalam cuitannya menjelaskan bahwa memang benar dalam akidah Ahlussunah wal Jamaah disebutkan setiap orang meninggal akan ditanya malaikat dalam kuburnya.

 

 

Akan tetapi, dalam kitab  ad-Durr Al-Farid fi Aqa’idi Ahli at-Tauhid karya Syeikh Ahmad ibn as-Sayyid Abdurrahman an-Nahrawi, ditegaskan bahwa Munkar dan Nakir bertanya menggunakan bahasa orang yang bersangkutan.

“Orang Indonesia akan ditanya dengan bahasa Indonesia. Orang Inggris ditanya dengan bahasa Inggris. Orang Arab ditanya dengan bahasa Arab. Bahkan tentu dengan bahasa berbagai daerah di Indonesia sesuai bahasa yang mampu diucapkan oleh yang bersangkutan,”Jelas Kiai Taufik Damas.

Yang tidak bisa bahasa Arab tidak perlu khawatir dan takut. Karena belajar bahasa Arab juga bukan kewajiban setiap muslim. Yang paling penting, kata Kiai Taufik Damas, jalani hidup ini dengan penuh kerendahan hati dan akhlak yang baik.

Tingkat beragama tidak diukur dari bisa bahasa Arab atau tidak.

“Agama adalah akhlak. Orang yang baik akhlaknya, berati agamanya juga baik,” Tutup Kiai Taufik Damas.

Diterbitkan di Berita