INDOZONE.IDPara pejabat tinggi di negara-negara Teluk biasanya mengenakan pakaian formal seperti thawab (pakaian tradisional bagi laki-laki di negara Arab) ataupun gamis lengkap dengan penutup kepala saat melakukan pertemuan.

Namun pemandangan berbeda tampak saat Putra Mahkota Arab Saudi Pangeran Mohammed bin Salman bin Abdulaziz Al Saud (Pangeran MBS) bersama Penasihat Keamanan Nasional UEA Sheikh Tahnoun Bin Zayed Al Nahyan melakukan pertemuan dengan Emir Qatar Sheikh Tamim Bin Hamad Al Thani pada Jumat (17/9). 

Nuansa pertemuan ketiganya tampak berbeda dari biasanya dan terkesan lebih santai. Pertemuan tersebut diunggah di akun Twitter Direktur Kantor Swasta Putra Mahkota Saudi, Badr Al Asaker. 

Tampak dalam foto yang diunggah, Pangeran MBS hanya memakai kemeja biru lengan pendek dan celana pendek warna kehijauan. 

"Pertemuan persahabatan dan persaudaraan di Laut Merah menyatukan Pangeran Mohammed Bin Salman, Emir Qatar, Sheikh Tamim Bin Hamad Al Thani, dan Penasihat Keamanan Nasional UEA di UEA, Sheikh Tahnoun Bin Zayed Al Nahyan," tulis Al Asaker, seperti dikutip dari Gulfnews, Sabtu (18/9).

Pertemuan tersebut diketahui dilakukan di resort Laut Merah di NEOM, Arab Saudi. Pertemuan itu menandakan jika Arab Saudi dkk telah berdamai dengan Qatar setelah berselisih selama 4 tahun.

Diterbitkan di Berita

Jakarta, Dakwah NU Setelah sebelumnya mengatakan kemenangan Taliban menguasai Afghanistan dijadikan motivasi dan membangkitkan semangat kelompok radikal di Indonesia.

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Said Aqil Siroj mengingatkan para pelajar Indonesia yang saat ini tengah menimba ilmu di berbagai belahan dunia. Ia berharap para pelajar tersebut hanya membawa ilmu, bukan budaya di tempat negaranya belajar.

“Saya sempat belajar ke Timur Tengah, Gus Dur juga ke Irak dan Mesir, Alwi Shihab ke Mesir. Tapi kita pulang bawa ilmu. Ilmu agama tafsir, hadis. Tapi tak bawa budaya, tak bawa cara berfikir orang Arab,” ujarnya.

“Begitu juga silakan yang kuliah di Eropa, Amerika, pulang bawa teknologi, jangan bawa budaya Eropa atau barat atau AS ke Indonesia,” sambungnya.

Kiai Said menekankan Indonesia memiliki kebudayaan tersendiri yang khas dan harus dipertahankan. Ia menegaskan budaya yang berasal dari negara lain tak akan cocok untuk Indonesia. “Dan saya yakin [budaya Indonesia] lebih baik dari budaya orang Arab dan Eropa,” ujarnya.

Sebelumnya, mantan Anggota Jemaah Islamiyah (JI) Nasir Abbas mengatakan keberhasilan Taliban menguasai Afghanistan menjadi euforia di kalangan jihadis alias pihak yang terkait kelompok teror berbasis agama.

Nasir menyebut para ‘jihadis’ merasa memiliki misi dan perjuangan yang sama, yakni mendirikan negara berdasarkan agama Islam. Nasir menyebut ada kebanggaan dari JI, Jamaah Ansharut Daulah (JAD), dan Mujahidin Indonesia Timur (MIT) atas keberhasilan Taliban.

“Akibat Taliban mendapatkan kemenangan, di sini jelas terjadi euforia di kalangan para jihadis,” kata Nasir dalam webinar Kemenangan Taliban di Afghanistan dan Implikasinya yang digelar Lakpesdam PBNU, Kamis (19/8).

Taliban menguasai Afghanistan setelah menduduki ibu kota Kabul pada 16 Agustus 2021. Manuver Taliban semakin intens setelah Amerika Serikat (AS) menarik pasukan yang telah beroperasi di Afghanistan selama 20 tahun.

Sebelum menguasai Kabul, Taliban telah menguasai belasan kota lainnya di Afghanistan. (red)

Diterbitkan di Berita

VOA Indonesia - Sebuah stasiun radio Israel menyelenggarakan acara mingguan di mana frasa dan kata-kata dasar dalam bahasa Arab diajarkan untuk meningkatkan pemahaman warga Israel mengenai bahasa Arab, dan untuk mempermudah hubungan lintasmasyarakat antara orang-orang Arab dan Yahudi.

Di Yerusalem, Galei Zahal, stasiun radio militer Israel, menyiarkan acara mingguan yang disebut Arabic Corner atau Pojok Bahasa Arab. Dalam acara tersebut, sang host diajari frasa dan kata-kata dasar dalam bahasa Arab oleh seorang guru tamu.

Acara berdurasi dua puluh menit itu dipandu oleh Ishay Shnerb dan guru tamu Sundos Alhoot. Tujuannya adalah untuk meningkatkan pemahaman orang Israel mengenai bahasa Arab, serta untuk memudahkan hubungan lintasmasyarakat antara orang Arab dan Yahudi.

'Kami memulainya di Galei Zahal untuk mengajarkan lebih banyak orang mengenai kata-kata spesifik dalam bahasa Arab, sehingga setidaknya akan ada satu kata dalam suatu kalimat yang dapat diucapkan dalam bahasa Arab.

Setiap siaran, kami mengajarkan satu topik," ujar Sundos Alhoot, guru bahasa Arab dalam siaran Arabic Corner.

 

Tentara Israel dari Galei Tzahal, stasiun radio tentara Israel, menyiapkan materi untuk acara radio di studio stasiun di Jaffa, Tel Aviv, 10 November 2013. (Foto: REUTERS/Nir Elias)
Tentara Israel dari Galei Tzahal, stasiun radio tentara Israel, menyiapkan materi untuk acara radio di studio stasiun di Jaffa, Tel Aviv, 10 November 2013. (Foto: REUTERS/Nir Elias)

 

Di Israel, jumlah orang Arab yang berbicara dalam bahasa Ibrani jauh lebih banyak daripada jumlah orang Yahudi Israel yang dapat berbicara dalam bahasa Arab.

'Inilah faktanya. Saya tidak tahu bahasa Arab. Saya berusia 27 tahun dan tumbuh besar di sini. Orang-orang Palestina tinggal 100 meter dari rumah orang tua saya. Ada 250 ribu orang Palestina tinggal di Yerusalem sini dan saya tidak memahami bahasa mereka. Saya tidak dapat mengobrol dengan mereka," kata Ishay Shnerb, host Arabic Corner.

Ishay Shnerb mengaku ia tidak dapat berkomunikasi dengan orang-orang Palestina di sekitar tempat tinggalnya bahkan pada tingkat yang paling sederhana.

Shnerb menegaskan ia tidak perlu tahu bahasa Arab formal dan hanya ingin dapat berbicara dengan orang-orang yang tinggal di sekitarnya. Ada satu miliar Muslim dan orang Arab, dan ia tidak tahu bagaimana cara berkomunikasi dengan mereka, lanjutnya.

 

Berbagai lembaga di Israel, seperti Madrassa dan Shaharit, ingin mengubah hal itu dengan mempromosikan belajar bahasa Arab sebagai cara untuk memperbaiki hubungan antara orang-orang Yahudi dan orang Arab.

Sebenarnya ada juga institusi pendidikan lebih dini, seperti sekolah-sekolah yang mengajarkan bahasa Arab dan Ibrani sekaligus, di berbagai penjuru Israel.

Ishay Shnerb mengemukakan mengenai pentingnya mempelajari bahasa pihak lain atau pihak yang berseberangan.

"Anda dapat masuk ke opini politik di tengah masyarakat Israel dan memberikan justifikasi untuk masing-masing pihak. Kalau Anda lebih cenderung berhaluan kiri, Anda ingin lebih banyak berbincang dengan tetangga-tetangga Anda dan dengan orang Palestina serta siapapun yang Anda kehendaki," papar Ishay Shnerb.

 

Seorang tentara Israel dari Galei Tzahal, stasiun radio tentara Israel, berdiri di pintu masuk stasiun radio di Jaffa, Tel Aviv 10 November 2013. (Foto: REUTERS/Nir Elias)
Seorang tentara Israel dari Galei Tzahal, stasiun radio tentara Israel, berdiri di pintu masuk stasiun radio di Jaffa, Tel Aviv 10 November 2013. (Foto: REUTERS/Nir Elias)

 

"Kalau Anda lebih cenderung berhaluan kanan, maka kadang-kadang ada isu seperti ‘kenali musuhmu’, ketahui apa yang mereka rencanakan. Apapun itu, Anda harus tahu bahasanya, Anda harus bisa berbicara atau berbincang-bincang. Orang-orang ini bukannya tak terlihat, mereka ada di sekitar kita," tambahnya.

Ketegangan antara komunitas Arab dan Yahudi mencapai titik tertinggi selama perang terbaru Israel dengan Gaza.

Di kota Lod, ketegangan tersebut menimbulkan kerusuhan dan kematian dua warga: Musa Hassuna, 32, yang dibunuh seorang tersangka penembak Yahudi, dan Yigal Yehoshua, 56, oleh sekelompok penyerang yang diduga adalah orang-orang Arab.

'Sewaktu kita memahami kelompok lain, kita tidak akan takut pada mereka. Dan kita meruntuhkan penghalang ketakutan itu sewaktu belajar bahasa Arab. Kalau Anda tahu bahasa, Anda juga tahu mengenai budaya masyarakat," kata Sundos Alhoot, sang guru tamu bahasa Arab di acara Arabic Corner.

 

Tentara Israel dari Galei Tzahal, stasiun radio tentara Israel, menyiapkan materi untuk acara radio, Tel Aviv tengah, 10 November 2013. (Foto: REUTERS/Nir Elias)
Tentara Israel dari Galei Tzahal, stasiun radio tentara Israel, menyiapkan materi untuk acara radio, Tel Aviv tengah, 10 November 2013. (Foto: REUTERS/Nir Elias)

 

Alhoot memberi contoh ‘Allahu Akbar’, kata-kata yang menunjukkan tentang ketakjuban dalam bahasa Arab. Sewaktu mengatakan ‘Allahu Akbar’, jelas Alhoot, orang Arab mengemukakan sesuatu yang ‘wow’ atau ‘indah’.

Tetapi, kata Alhoot lagi, ada sebagian orang yang ketika mendengar kata-kata ’Allahu Akbar’ kemudian terbersit dalam benak mereka ‘terorisme’, ‘takut’, ‘mengapa ia mengatakan itu?’, atau ‘ini pasti mengenai terorisme.’

Padahal bukan itu maksudnya, tegas Alhoot. Sewaktu murid-murid belajar bahasa Arab, barulah mereka tahu bahwa ‘Allahu Akbar’ adalah semacam ekspresi ketakjuban dan mereka akan mengatakan ‘baik, semuanya baik-baik saja, kata Alhoot. [uh/ab]

Diterbitkan di Berita

Anadolu Agency JAKARTA Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz al-Saud mengarahkan Pusat Bantuan Kemanusiaan Raja Salman (KSrelief) untuk mengirim bantuan kepada Malaysia dalam rangka penanganan Covid-19.

Raja Salman memberikan arahan tersebut menanggapi permintaan dari Menteri Luar Negeri Malaysia Hishammuddin Hussein saat berkomunikasi dengan Putra Mahkota Mohammed bin Salman.

Supervisor General di KSrelief Abdullah bin Abdulaziz Al Rabeeah mengungkapkan bantuan itu terdiri dari 1 juta dosis vaksin Covid-19, alat kesehatan, dan kebutuhan medis lainnya.

Berdasarkan pemberitaan media Saudi Press Agency, Abdullah mengatakan arahan kerjaan tersebut merupakan penegasan peran kemanusiaan oleh Arab Saudi terhadap negara-negara yang paling terdampak pandemi.

Malaysia tengah mengalami peningkatan kasus Covid-19 akibat merebaknya varian Delta ke seluruh negeri. Pada Senin hari ini, Malaysia melaporkan 14.516 kasus baru Covid-19 sehingga totalnya menjadi 1.027.954 orang.

Jumlah kasus baru pada Senin hari ini menurun dibanding data pada Minggu ketika Malaysia mencatat 17.045 pasien baru dan menjadikannya kasus harian Covid-19 tertinggi.

Malaysia menerapkan lockdown atau karantina secara nasional mulai 12 Mei dan baru akan mencabutnya jika jumlah kasus di bawah 4.000 per hari.

Diterbitkan di Berita

VOA Indonesia

Dunia Arab untuk pertama kalinya memiliki seorang astronaut perempuan. Anggota program antariksa Uni Emirat Arab itu diperkenalkan Rabu (7/7).

Nora al-Matrooshi diperkenalkan pada hari Rabu (7/7) sebagai bagian dari program antariksa Uni Emirat Arab. Ia adalah astronaut perempuan pertama di dunia Arab.

Pusat Antariksa "Mohammed Bin Rashid" mengumumkan bahwa al-Matrooshi, bersama-sama dengan Mohammad al-Mulla, telah memulai latihan internal mereka, yang akan berlanjut hingga mereka bergabung dengan “Kelas Kandidat Astronaut NASA 2021” pada bulan Desember.

Dalam penjelasan mengenai apa yang memotivasinya untuk menjadi astronaut, al-Matrooshi mengemukakan, "Motivasi saya di balik pendaftaran ke program antariksa Uni Emirat Arab adalah impian saya sewaktu anak-anak dan keinginan saya menjadi astronaut.”

 

Mohammed al-Mulla (kiri) dan Nora al-Matrooshi, dua astronaut Uni Emirat Arab.
Mohammed al-Mulla (kiri) dan Nora al-Matrooshi, dua astronaut Uni Emirat Arab.

 

Al-Matrooshi yang berusia 28 tahun itu adalah sarjana teknik mesin yang sekarang ini bekerja di Perusahaan Konstruksi Perminyakan Nasional Abu Dhabi. Kelas Kandidat NASA yang akan diikuti warga negara Uni Emirat Arab ini akan berlangsung di Amerika Serikat.

Uni Emirat Arab menggunakan program antariksanya untuk mengembangkan kemampuan ilmiah dan teknologinya serta mengurangi ketergantungannya pada minyak.

Al-Matrooshi menjelaskan bahwa negaranya memberi dukungan bagi aspirasinya itu. "Di Uni Emirat Arab, pemerintah sangat suportif terhadap rakyatnya, masyarakat sangat suportif.

Keluarga saya juga memberi banyak dukungan sehingga saya merasa tidak menghadapi tantangan sewaktu mendaftarkan diri ke program ini karena semua orang sangat suportif di Uni Emirat Arab ini.”

Pada Februari lalu, sebuah wahana antariksa Uni Emirat Arab mencapai orbit planet Mars. Ini adalah ekspedisi antarplanet pertama dunia Arab.

Uni Emirat Arab memiliki rencana untuk meluncurkan wahana penjelajah bulan pada tahun 2024 dan visi membangun permukiman di Mars pada 2117

Al-Matrooshi adalah satu dari 4.300 pendaftar yang kemudian disaring berdasarkan kemampuan ilmiah, pendidikan dan pengalaman praktis mereka. Saringan berikutnya adalah mengenai kemampuan fisik, psikologi dan kesehatan, kata Pusat Antariksa Mohammed Bin Rashid.

Al-Matrooshi berharap ia dapat mendukung sasaran yang ingin dicapai oleh negaranya dalam bidang antariksa. Ia mengemukakan,

"Saya ingin meraih apa yang ingin dicapai oleh para pemimpin Uni Emirat Arab, menjadikan Uni Emirat sebagai bagian, atau salah satu negara terkemuka, dalam bidang antariksa.” [uh/ab]

Diterbitkan di Berita

Hengki Ferdiansyah islami.co Mayoritas muslim meyakini kelak setiap orang yang meninggal pasti ditanya malaikat di dalam kubur. Ada dua malaikat yang bertanya, namanya Malaikat Munkar dan Nakir.

Mereka bertanya tentang Tuhan, Nabi, Agama, dan Kitab. Siapa Tuhanmu, Siapa Nabimu, Apa Agamu, dan Apa kitabmu.

Sebagian orang meyakini pertanyaan itu dilontarkan dengan menggunakan bahasa Arab. Di media sosial yang ada netizen yang menyatakan, “Setiap manusia akan ditanya di alam kuburnya dengan bahasa Arab dan itu ada pasti.

Jika kalian tidak mau belajar dari sekarang apa yang akan kalian persiapkan di kala malaikat bertanya.”

 

 

Pernyataan ini mengundang respons dan reaksi dari banyak pihak. Kalau memang pertanyaan itu pakai bahasa Arab, bagaimana nasib orang yang tidak bisa bahasa Arab?

Kiai Taufik Damas dalam cuitannya menjelaskan bahwa memang benar dalam akidah Ahlussunah wal Jamaah disebutkan setiap orang meninggal akan ditanya malaikat dalam kuburnya.

 

 

Akan tetapi, dalam kitab  ad-Durr Al-Farid fi Aqa’idi Ahli at-Tauhid karya Syeikh Ahmad ibn as-Sayyid Abdurrahman an-Nahrawi, ditegaskan bahwa Munkar dan Nakir bertanya menggunakan bahasa orang yang bersangkutan.

“Orang Indonesia akan ditanya dengan bahasa Indonesia. Orang Inggris ditanya dengan bahasa Inggris. Orang Arab ditanya dengan bahasa Arab. Bahkan tentu dengan bahasa berbagai daerah di Indonesia sesuai bahasa yang mampu diucapkan oleh yang bersangkutan,”Jelas Kiai Taufik Damas.

Yang tidak bisa bahasa Arab tidak perlu khawatir dan takut. Karena belajar bahasa Arab juga bukan kewajiban setiap muslim. Yang paling penting, kata Kiai Taufik Damas, jalani hidup ini dengan penuh kerendahan hati dan akhlak yang baik.

Tingkat beragama tidak diukur dari bisa bahasa Arab atau tidak.

“Agama adalah akhlak. Orang yang baik akhlaknya, berati agamanya juga baik,” Tutup Kiai Taufik Damas.

Diterbitkan di Berita

VOA Indonesia

Seorang lelaki Yahudi tewas sewaktu terjadi bentrokan dengan kekerasan di Lod, Israel. Kematiannya membawa kehidupan baru bagi seorang perempuan Arab yang telah lama menunggu datangnya donor ginjal.

Yigal Yehoshua, seorang lelaki Yahudi berusia 56 tahun, meninggal dunia pertengahan Mei lalu. Ia tewas setelah dilempari batu, di tengah-tengah kerusuhan antara warga Arab dan Yahudi di kota Lod, Israel, yang warganya berasal dari beragam latar belakang etnik.

Kekerasan etnik itu terjadi di tengah-tengah pertempuran 11 hari antara pasukan Israel dan militan Hamas di Gaza, yang dipicu oleh berbagai protes dan bentrokan di Yerusalem.

Di Lod serta di berbagai kota lain di dalam wilayah Israel yang memiliki penduduk dari beragam etnik, geng-geng warga Arab dan Yahudi saling berkelahi dan bentrok di jalan-jalan. Mereka membakar mobil-mobil, juga tempat-tempat usaha.

Namun setelah bentrok berhari-hari, siang dan malam, ada momen langka mengenai harapan persatuan, ketika Randa Aweis, yang berusia 58 tahun, menerima salah satu ginjal Yehoshua setelah menunggu donor selama 10 tahun.

 

Randa Aweis, yang menerima sumbangan ginjal dari Yigal Yehoshua, yang meninggal setelah mengalah pada luka yang dideritanya selama kekerasan Arab-Yahudi di kota campuran Lod, melihat sambil berdiri di dapurnya di rumahnya di Yerusalem pada 26 Mei 2021. (Foto: REUTERS/Ammar Awad)
Randa Aweis, yang menerima sumbangan ginjal dari Yigal Yehoshua, yang meninggal setelah mengalah pada luka yang dideritanya selama kekerasan Arab-Yahudi di kota campuran Lod, melihat sambil berdiri di dapurnya di rumahnya di Yerusalem pada 26 Mei 2021. (Foto: REUTERS/Ammar Awad)

 

Yehoshua tercatat sebagai donor organ. Secara medis, lelaki Yahudi dan perempuan Arab itu cocok sebagai pendonor dan penerima ginjal.

“Setelah 10 tahun, saya katakan pada diri sendiri. Cukup. Tak ada ginjal. Saya tak menginginkannya. Pekan lalu hari Senin, saya menjalani cuci darah, lalu saya pulang. Setiba di rumah, saya menerima telepon dari Hadassah. Saya tak bisa mempercayainya.

Sungguh, saya benar-benar tak percaya," kata Aweis ketika ditemui baru-baru ini Hadassah Medical Center di Yerusalem.

Aweis, yang ditemani putrinya, Niveen, satu dari enam anaknya, menyatakan rasa syukur yang tak henti-henti.

"Saya berterima kasih kepada mereka. Terima kasih, sebanyak-banyaknya. Mereka menyelamatkan saya. Mereka tidak mempermasalahkan apapun, Arab atau Yahudi.

Dari apa yang saya dengar mengenai dia, orang-orang mengatakan bahwa ia adalah lelaki yang baik. Yigal Yehoshua orang baik, tidak melakukan pengrusakan apapun, tidak merugikan siapapun, mengapa ia dibunuh? Ini dilarang, haram.

Harus ada perdamaian antara Yahudi dan Arab. Perdamaian yang sejati, bukan bohong-bohongan," paparnya.

Warga Israel, yang sudah lama terbiasa dengan kerusuhan yang sesekali terjadi di Gaza dan wilayah pendudukan Tepi Barat, terguncang oleh kekerasan itu.

Kekerasan belakangan ini terjadi lebih dekat lagi ke rumah mereka daripada masa-masa sebelumnya, sejak berlangsung intifada, atau pergolakan Palestina.

Kadang-kadang, ini terlihat seperti dimulainya perang saudara.

Warga Arab di Israel, yang merupakan 20 persen dari populasi negara itu, menyatakan, kekerasan itu berakar dari berbagai keluhan lama.

 

Randa Aweis, yang menerima sumbangan ginjal dari lelaki Yahuid Yigal Yehoshua. (Foto: AP)
Randa Aweis, yang menerima sumbangan ginjal dari lelaki Yahuid Yigal Yehoshua. (Foto: AP)

 

Mereka memiliki kewarganegaraan, termasuk hak untuk memilih, tetapi mereka menghadapi diskriminasi yang meluas.

Mereka juga memiliki hubungan kekerabatan yang dekat dengan warga Palestina dan kebanyakan mengidentifikasi diri sebagai pendukung gerakan Palestina, membuat banyak warga Israel keturunan Yahudi memandang mereka dengan penuh kecurigaan.

Sewaktu kematian Yehoshua diumumkan, PM Israel Benjamin Netanyahu mengemukakan, “Kami akan menyelesaikan masalah ini dengan memburu siapapun yang terlibat dalam pembunuhan ini, tidak seorang pun yang akan lolos dari hukuman.”

Polisi telah menangkap beberapa tersangka yang terkait dengan kekerasan itu.

 

Randa Aweis, yang menerima sumbangan ginjal dari lelaki Yahuid Yigal Yehoshua. (Foto: AP)
Randa Aweis, yang menerima sumbangan ginjal dari lelaki Yahuid Yigal Yehoshua. (Foto: AP)

 

Aweis tidak pernah bertemu dengan Yehoshua, tetapi ia berbicara dengan jandanya dalam pertemuan melalui video yang dipenuhi dengan isak tangis.

"Saya berbicara dengan istrinya yang malang, ia banyak menangis. Ia menjenguk saya melalui video call. Saya sedang di unit perawatan intensif. Situasinya agak sulit baginya. Apa yang dapat kami lakukan?” kata Aweis.

Ketika ditanya apakah ia berencana untuk menemui istri Yehoshua, Aweis mengatakan ia sudah merencanakan pertemuan itu tetapi belum dapat melakukannya.

Ia berharap dapat mengunjungi keluarga Yehoshua secara langsung, duduk dan berbincang bersama, begitu ia pulih dari operasi cangkok ginjalnya.

"Ia menyelamatkan saya. Yigal menyelamatkan saya, dan sebanyak apapun saya ucapkan terima kasih, kepada keluarganya kepada siapapun, ini mish kifaya, tidak cukup.” [uh/ab]

Diterbitkan di Berita