Adi Fida Rahman - detikInet Jakarta - Salah satu keunggulan 5G adalah kecepatan internet yang lebih kencang dari pendahulunya. Nah setelah diluncurkannya layanan Telkomsel 5G, yuk bandingkan kecepatan internet seluler generasi kelima itu dengan 4G LTE di Indonesia.

Bersamaan dengan pengujian 5G, kami sempat membandingkan koneksi 4G LTE di tujuh titik, yakni Bandara Soekarno Hatta, Pantai Indah Kapuk (PIK), Kelapa Gading, Kuningan Barat, Pondok Indah, BSD dan Alam Sutera.

Peralatan

- Oppo Reno5 5G

- SIM Card 4G Telkomsel yang telah diregistrasi layanan 5G

- SIM Card 4G Telkomsel

- Paket internet OMG Telkomsel

- Aplikasi Speedtest

Hasil Pengujian

Bandara Soekarno Hatta

Lokasi: Grapari Telkomsel di Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta

Klaim bahwa koneksi 5G beberapa kali lipat dari 4G ada benarnya. Ketika detikINET menjajal 4G di area ini mendapat 124 Mbps, sedangkan 5G mendapat 5 kali lipatnya, yakni 672 Mbps.

  Latensi Download Upload
5G 17 ms 672 Mbps 77,4 Mbps
4G LTE 21 ms 124 Mbps 36,6 Mbps

 

Kecepatan 5G Telkomsel
Perbandingan kecepatan 5G dengan 4G Telkomsel di Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta. Foto: Adi Fida Rahman/detikINET

 

Pantai Indah Kapuk

Lokasi: Kantor pemasaran PIK

Koneksi 5G mencapai 245 Mbps, angka tersebut nyaris 4 kali kecepatan 4G yang meraih kecepatan 69,5 Mbps.

  Latensi Download Upload
5G 18 ms 245 Mbps 46,9 Mbps
4G LTE 30 ms 69,5 Mbps 19,4 Mbps

 

Kecepatan 5G Telkomsel
Perbandingan kecepatan 5G dengan 4G Telkomsel di PIK Foto: Adi Fida Rahman/detikINET

 

Kelapa Gading

Lokasi: perumahan Kelapa Gading Timur

Koneksi 4G yang didapat cukup tinggi yakni 203 Mbps, sedangkan 5G lebih dari dua kali lipatnya.

  Latensi Download Upload
5G 19 ms 547 Mbps 85,2 Mbps
4G LTE 20 ms 203 Mbps 5,71 Mbps

 

Kecepatan 5G Telkomsel
Perbandingan kecepatan 5G dengan 4G Telkomsel di Kelapa Gading. Foto: Adi Fida Rahman/detikINET

 

Kuningan Barat

Lokasi: area di belakang Wisma Mulia, Kuningan Barat.

Kami coba membandingkan 5G ke server di Thailand dan mendapat kecepatan 357 Mbps. Sedangkan 4G ke server lokal meraih 118 Mbps.

  Latensi Download Upload
5G (Server di Thailand) 67 ms 357 Mbps 60,2 Mbps
4G LTE 24 ms 118 Mbps 46,2Mbps

 

Kecepatan 5G Telkomsel
Kecepatan 5G Telkomsel Foto: Adi Fida Rahman/detikINET

 

 

Pondok Indah

Lokasi: Perumahan di belakang PIM 2

Jelang petang kecepatan 5G di kawasan ini mampu meraih 331 Mbps, sementara 4G LTE mencapai 66,2 Mbps.

  Latensi Download Upload
5G 17 ms 331 Mbps 60,2 Mbps
4G LTE 23 ms 66,2 Mbps 29,2 Mbps

 

Kecepatan 5G Telkomsel
Kecepatan 5G Telkomsel Foto: Adi Fida Rahman/detikINET

 

 BSD

Lokasi: perumahan padat di Kelurahan Lengkong Gudang, BSD, Tangerang Selatan.

Saat jam padat, koneksi 5G milik Telkomsel tembus 252 Mbps, sedangkan 4G LTE mendapat 263 Mbps.

  Latensi Download Upload
5G 16 ms 252 Mbps 61,3 Mbps
4G LTE 31 ms 86,1 Mbps 47,4 Mbps

 

Kecepatan 5G Telkomsel
Kecepatan 5G Telkomsel Foto: Adi Fida Rahman/detikINET

 

Alam Sutera

Lokasi: depan komplek Ruko Sutera Niaga 3, Alam Sutera, Tangerang Selatan.

Saat jam sibuk malam hari, kecepatan 5G Telkomsel dapat menembus 246 Mbps, sedangkan 4G LTE hanya mendapat 7,68 Mbps.

  Latensi Download Upload
5G (Server di Indonesia) 17 ms 246 Mbps 60,4 Mbps
5G (Server di Thailand) 26 ms 7,68 Mbps 27,4 Mbps

 

Kecepatan 5G Telkomsel
Kecepatan 5G Telkomsel Foto: Adi Fida Rahman/detikINET

 
(afr/asj)

Diterbitkan di Berita

BANDUNG, itb.ac.id—Mendukung pembelajaran jarak jauh, ITB-STEI-PUI Mikroelektronika ITB berkontribusi dalam membangun jaringan 4G di daerah 3T (tertinggal, terdepan, terluar).

Pembangunan jaringan dilakukan di daerah Maluku dan NTT sebagai daerah 3T yang belum memiliki infrastruktur memadai, hal ini dikarenakan belum banyaknya populasi di daerah tersebut sehingga dirasa belum komersial bagi operator telekomunikasi yang ada.

Menurut Prof. Trio Adiono S.T., M.T., Ph.D., semenjak pandemi COVID-19 melanda hampir seluruh negara di dunia, sistem pembelajaran dipaksa untuk berubah dari konvensional menjadi digital.

Sekolah dan universitas menerapkan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ), pada nyatanya tidak semua daerah memiliki sinyal telekomunikasi yang baik khususnya daerah 3T untuk melaksanakan PJJ tersebut.

Ia melanjutkan, hal ini mengakibatkan daerah tersebut tidak memungkinkan untuk mengakses konten elektronik atau kelas jarak jauh.

Oleh karena itu, semenjak 12 tahun terakhir tim ITB-STEI-PUI PT Mikroelektronika telah mengembangkan perangkat Base Station (BTS) untuk menyediakan koneksi data kecepatan tinggi berbasis teknologi 4G LTE.

“BTS ini dapat diakses melalui smartphone, tablet, komputer, dan perangkat lainnya. Perangkat ini disebut dengan InfiniteBe, dikembangkan dengan tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) lebih dari 40%.

Perangkat ini sangat cocok sebagai solusi PJJ di daerah 3T karena kemampuannya yang dapat menjawab kebutuhan,” ujar Prof. Triono kepada Humas ITB, belum lama ini.

Proyek pembangunan sinyal 4G ini didanai oleh Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Kemendikbud dan didukung oleh Kemenristek, Menkominfo, dan Kemenko Kemaritiman dan Investasi RI untuk melaksanakan deployment perangkat dan pengembangan industri telekomunikasi.

 

 

Proyek mulai dijajaki sejak Agustus 2020, kemudian dilaksanakan bulan September dan dilakukan instalasi pada Desember 2020. Dalam pembangunannya, proyek ini menemui berbagai kendala.

Kendala utama yang dihadapi adalah sulitnya pengadaan dan pengiriman logistik ke daerah tersebut.

Pengiriman hanya dapat dilakukan dengan moda transportasi yang sangat terbatas, sedangkan penyediaan alat masih harus dilakukan dari Jawa seperti tower dan power supply yang besar.

Hal ini mengakibatkan terhambatnya proses instalasi. Selain itu, faktor alam juga menjadi kendala lain dalam pembangunan proyek. Musim hujan yang sedang melanda menghambat proses pembangunan tower.

Prof. Triono berharap dengan terealisasinya proyek ini dapat menjadi bukti nyata bahwa bangsa Indonesia dapat merancang perangkat dengan teknologi tinggi seperti 4G LTE, sekaligus menjawab kebutuhan masyarakat.

“Selanjutnya, kami berharap perangkat ini dapat di duplikasi di sekolah-sekolah yang belum memiliki akses seluler dan internet dan dapat mengembangkan industri elektronika Indonesia,” kata Prof. Triono.

 

Reporter: Diah Rachmawati (Teknik Industri, 2016)

Oleh: Adi Permana

Editor: Diky Purnama, S.Si.,M.Ds.

Diterbitkan di Berita