Merdeka.com - Toleransi merupakan cerminan dari sila ketiga Pancasila yaitu Persatuan Indonesia. Berbagai perbedaan yang ada harus disikapi secara bijak saling menghormati. Dengan begitu harmonisasi sesama anak bangsa diyakini akan muncul mengikis upaya-upaya adu domba. "Justru dengan perbedaan kita saling melengkapi. Di mana lagi, di dunia ada masyarakat dalam jumlah sangat besar memiliki perbedaan dari warna kulit, wilayah tinggal kepulauan, budaya hingga iklim dan cuaca berbeda menyatu sebagai bangsa," ujar Pengamat Sosial dari Universitas Indonesia, Devie Rahmawati dalam keterangannya, Minggu (14/2). Lebih lanjut, Dia mengatakan, dengan adanya perbedaan yang bermacam-macam tersebut hanya ada satu kekuatan yang mampu merekatkan seluruh perbedaan fisik, geografis, historis, dan sosiologis yaitu toleransi. "Toleransi ialah upaya untuk memahami orang lain, salah satunya dengan tidak berkata dan berbuat hal-hal kepada orang lain yang kita sendiri tidak nyaman bila orang lain mengatakan dan melakukannya kepada diri kita," kata Devie. Menurutnya, dibutuhkan kesabaran dan konsistensi untuk terus mengkomunikasikan filosofi dan praktik dari toleransi ini. Oleh sebab itu, Devie mengatakan, bahwa pemerintah perlu menggandeng para tokoh yang akan didengar oleh setiap kelompok di masyarakat. "Mengapa dibutuhkan tokoh-tokoh publik? Karena karakter sosial masyarakat Indonesia yang hirarkis, patron - klien yaitu adanya para Patron (individu yang dianggap berada di puncak hirarki) yang dihormati, diteladani hingga diikuti oleh para klien (individu yang berada di posisi bawah dalam hirarki sosial)," jelasnya. Menurutnya, toleransi termasuk dalam keterampilan sosial dan harus dilatih bukan cuma dihafalkan. Ia menyebut yang menjadi tantangan dari metode pendidikan di Indonesia adalah lebih menekankan kepada upaya menghafalkan bukan mengamalkan. "Nilai-nilai Pancasila yang di antaranya toleransi tidak pernah dipraktikkan sebagai sebuah amalan, berhenti pada hapalan semata," tuturnya. Oleh sebab itu, ia berpendapat bahwa nilai toleransi harus dipraktikan. Devie juga berpesan kepada adik-adik siswa di sekolah, bahwa saat ini mereka adalah warga dunia. Berbeda dengan generasi masa lalu yang sangat terbatas untuk tersambung dengan orang dari belahan dunia. "Dan yang harus diingat, ibaratnya sebuah lagu yang lahir dari nada-nada berbeda bukan hanya nada DO, maka keindahan hidup ini juga terwujud dari perbedaan tersebut," tutupnya. [did] Reporter : Didi Syafirdi