PARIAMAN, KOMPAS.com - Jumlah siswa yang diduga mengalami keracunan setelah menyantap Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kota Pariaman, Sumatera Barat, bertambah menjadi 126 orang. Data terbaru tersebut dihimpun Dinas Kesehatan Kota Pariaman hingga Selasa (15/9/2026). Kabid Kesehatan Masyarakat dan Promosi Kesehatan Dinas Kesehatan Kota Pariaman, Susrikawati, mengatakan para siswa berasal dari dua sekolah yang menerima makanan dari SPPG Pasir Pariaman Tengah. "Data terakhir itu ada sekitar 126 siswa yang diduga keracunan. Itu 125 siswa MTsN 1 Pariaman, sementara satu lagi siswa SMPN 1 Pariaman," kata Susrikawati saat ditemui di SPPG Pasir Pariaman Tengah, Selasa. Dugaan Keracunan Massal MBG di Lombok Tengah, 352 Siswa Dilarikan Puskesmas Kedua sekolah tersebut diketahui menerima menu MBG yang sama pada Senin (14/9/2026). Gejala muncul setelah santap MBG Menurut Dinas Kesehatan, keluhan mulai muncul setelah siswa menyantap makanan pada Senin siang. Dinkes Pariaman kemudian melakukan pendataan setelah menerima laporan dari sekolah, keluarga siswa, para siswa, hingga pihak rumah sakit. "Kita sudah dapat semua laporan dari keluarga, sekolah, anak sendiri, dan rumah sakit terkait kasusnya, gejalanya apa saja, berapa jumlah anak, kemudian menu-menu apa saja yang diberikan," ujar Susrikawati. Tim gerak cepat Dinas Kesehatan juga turun melakukan verifikasi di lapangan. Sejumlah siswa sempat menjalani perawatan di rumah sakit. Dari 126 siswa tersebut, satu siswa masih menjalani perawatan di Rumah Sakit M Yamin dan empat lainnya sempat dirawat di Rumah Sakit Sadikin. Satu siswa yang dirawat di Rumah Sakit Sadikin kemudian diperbolehkan pulang pada Selasa. Dinas Kesehatan masih memantau kondisi siswa yang menjalani perawatan. Sampel makanan diperiksa BPOM Hingga kini, Dinkes Pariaman belum dapat memastikan penyebab munculnya gejala pada para siswa. Investigasi masih dilakukan terhadap seluruh proses penyediaan makanan, mulai dari pengolahan, menu, pemorsian, hingga distribusi. Petugas juga telah mengirimkan sampel makanan ke BPOM Padang untuk diperiksa. Terdapat dua jenis sampel yang diuji, yakni makanan yang disimpan di SPPG dan makanan yang dikonsumsi siswa. Menu yang diperiksa meliputi ayam tepung, tahu goreng, sayur kacang panjang dan jagung, saus lada hitam, nasi, serta semangka. "Belum bisa kita simpulkan karena kita masih melaksanakan investigasi di lapangan. Dari BPOM juga masih menyelidiki," katanya. Menurut informasi yang diterima Dinkes Pariaman, hasil pemeriksaan laboratorium BPOM diperkirakan keluar dalam waktu sekitar satu minggu. SPPG dihentikan selama 30 hari Sebagai tindak lanjut kasus tersebut, operasional SPPG Pasir Pariaman Tengah dihentikan sementara selama 30 hari. Dinas Kesehatan juga akan mengevaluasi pelaksanaan MBG serta SPPG lain di Kota Pariaman. Evaluasi dilakukan untuk mencegah kejadian serupa terulang. Sementara itu, pihak MTsN 1 Pariaman sebelumnya langsung meminta siswa menghentikan konsumsi MBG setelah muncul keluhan. Kepala MTsN 1 Pariaman, Tarmizi, mengatakan makanan tiba di sekolah sekitar pukul 09.00 WIB dan mulai dibagikan sekitar pukul 10.00 WIB. Keluhan kemudian muncul dalam waktu relatif singkat. "Agak cepat, itu sekitar 15 menit perkiraan setelah mengonsumsi MBG," kata Tarmizi. Keluhan yang dialami siswa antara lain pusing, sakit perut, mual, muntah, hingga gatal. Siswa mengeluhkan bau makanan Setelah menerima laporan dari siswa, guru langsung menginstruksikan agar makanan yang tersisa tidak dikonsumsi. "Karena cepat, belum semua murid kita mengonsumsi. Jadi guru-guru mengumumkan agar menstok makanan tersebut untuk dikonsumsi," ujarnya. Pihak sekolah juga menerima laporan bahwa sejumlah siswa mencium aroma tidak biasa dari makanan yang dibagikan. "Menu makanan itu mungkin ada yang aroma atau baunya yang tidak wajar, ada yang berbau agak busuk," katanya. Menurut Tarmizi, bagian ayam menjadi salah satu menu yang paling banyak dikeluhkan karena aromanya. Menu MBG yang dibagikan saat itu antara lain ayam goreng tepung, nasi, dan sambal. Guru yang mencicipi MBG ikut mengalami keluhan Sebelum makanan dibagikan kepada siswa, seorang guru bernama Rudi Hartono ditugaskan mencicipi menu MBG. Rudi tidak menghabiskan makanan yang dicicipinya. Namun, setelah itu ia juga mengeluhkan pusing dan mual. "Ada satu orang guru yang mencoba, yang biasanya kita tugaskan untuk mencoba sebelum distribusi MBG kepada anak-anak, yaitu Pak Rudy. Beliau mencoba tapi tidak sampai habis," ujar Tarmizi. Kondisi Rudi disebut tidak berat. Ia bahkan masih sempat membantu pihak sekolah melaporkan kejadian dan membawa siswa ke rumah sakit. Sekolah sempat panik Pihak sekolah mengaku sempat panik karena baru pertama kali menghadapi kejadian tersebut. "Karena itu kita baru mengalami kejadian seperti itu, memang agak panik. Sehingga kita menindaklanjuti untuk dibawa ke rumah sakit," ujar Tarmizi. Pada Selasa, kegiatan belajar mengajar di MTsN 1 Pariaman kembali berjalan. Siswa yang tidak terdampak mengikuti pelajaran seperti biasa, sedangkan siswa yang mengalami keluhan masih menjalani pemulihan di rumah maupun rumah sakit. MTsN 1 Pariaman tercatat memiliki 838 siswa serta 76 guru dan tenaga kependidikan. Untuk kelanjutan program MBG di sekolah, pihak sekolah masih menunggu keputusan dari pihak berwenang. "Kita menunggu evaluasi dan bagaimana kebijakan pimpinan, untuk apakah di-stop atau diteruskan. Kita menunggu keputusan atau kebijakan dari pihak yang berwenang," pungkasnya. Sebagian artikel ini telah tayang di TribunPadang.com dengan judul "Korban Keracunan MBG di Pariaman Bertambah Jadi 126 Siswa, Dinkes Kirim Sampel Makanan ke BPOM". Sumber: https://regional.kompas.com/read/2026/09/15/203817278/korban-dugaan-keracunan-mbg-di-pariaman-bertambah-jadi-126-siswa-sppg.